Makalah Kenakalan Remaja Di Lingkungan Sekitar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan  individu (remaja) berlangsung terus menerus dan tidak dapat di ulang kembali. Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik diakibatkan sikap mereka yang suka mencoba-coba pada hal yang baru. Pada perkembangan fisik remaja mulai Nampak terutama pada bagian organ-organ seksualnya secara fisik, pada masa remaja pula mulai pembentukan hormon-hormon seksual sudah mulai terbentuk sehingga perilaku atau tingkah lakunya banyak di pengaruhi oleh hormon tersebut Namun yang menjadi perhatian kita adalah pergaulan remaja pada zamansekarang ini sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Media massa baik elektronik maupun cetak dengan leluasa menampilkan hal-hal yang menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan akhlak generasi muda padamasa sekarang ini.Bukan masalah akhlak saja, akibat dari itu juga menimbulkan rendahnya kualitas belajar siswa ketika mengalami gangguan pada masa-masa remaja.Untuk itu bimbingan orang tua terhadap anak pada seusia remaja sangatlahdibutuhkan agar mereka dapat tumbuh berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya.Agar orang tua dapat memberikan bimbingan kepada anaknyahenknya mengetahui perkembangan fisik remaja. Selain orang tua terdapat beberapa faktor yang dapat membantu untuk memecahkan promatika remaja.

B.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah permasalahan di atas, dapat di ambil rumusanmasalah sebagai berikut:³Apa saja permasalahan pada dunia pergaulan remaja pada masa sekarang ini dan bagaimana cara penanggulangannya?´


C.    Tujuan
1)    Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan remaja.
2)    Untuk mengetahui hubungan antara kenakalan remaja dengan keberfungsian sosial keluarga.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    MASA REMAJA
Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah(Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial (TP-KJM,2002).
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yangdahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bias dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siapmenghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat  yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti.
Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karenakadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka.Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi dimensi tersebut, antara lain :
 
1.    Dimensi Biologi
    Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai denganmenstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar.Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungandengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2).Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hor mon tersebutmerangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormone kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atasmerubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain ituterjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll.Anak lelakimulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

2.    Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).Pada periode ini,idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapatmembayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibatatau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remajatidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses  informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikandiri dengan lingkungan sekitar mereka. Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orangdewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini..
3.    Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar  bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah - masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada merekaselama ini tanpa bantahan.Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiranyang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis,remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya ³kenyataan´ lain di luar dari yang selamaini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadilebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalamsuatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak. Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena merekamulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya.Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan ³kenyataan´ yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkansangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diriremaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.Peranan orang tua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternative  jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban danalternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik.Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikapkaku akan membuat sang remaja tambah bingung.
4.    Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata - rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood ³ senang luar  biasa´ ke ³sedih luar biasa´, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari - hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah - ubah dengan cepat,hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka  menganggap  bahwa orang lain sangatmengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja   cenderung untuk menganggap diri mereka sangat  unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putriakan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkandirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan ³hebat´. Pada usia 16tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika iasering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar  bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama denganyang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selaludiperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah,remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikanimpian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat ³tidak memikirkan akibat´ dari perbuatan mereka.Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh  menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar  pembentukan jatidiri positif pada remaja.Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai ³seseorang yang baru´; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk  dicobanya. perilaku yang mengundang resiko dan berdampak negative pada remaja. Perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan alcohol, tembakau dan zatlainnya; aktivitas social yang berganti ± ganti pasangan dan perilaku menentang bahaya seperti balapan, selancar udara, dan layang gantung (Kaplan dan Sadock,1997). Alasan perilaku yang mengundang resiko adalah bermacam ± macam dan berhubungan dengan dinamika fobia balik ( conterphobic dynamic ), rasa takutdianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin dan dinamika kelompok seperti tekanan teman.

B.    PENYIMPANGAN SEKS PADA REMAJA
Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja sangatlah diperlukanagar mereka tidak "kuper" dan "jomblo" yang biasanya jadi anak mama. "Banyak  teman maka banyak pengetahuan". Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yang kita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbau pornografi, dan tentu saja ada yang bersikap terpuji.benar agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan. Masa remaja merupakan suatumasa yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika.
Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruhterhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masa remaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan.Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulaimenyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun nonelektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut. Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masaawal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadi pada usia sekolah. Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkanrespon dari dua pihak.Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadi kehamilan pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolah meresponya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya siswitersebut dari sekolah.
Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi tersebut tinggal,lingkungan akan cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi tersebut. Haltersebut terjadi jika karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita.Kehamilan remaja adalah isu yang saat ini mendapat perhatian pemerintah.Karenamasalah kehamilan remaja tidak hanya membebani remaja sebagai individu dan bayi mereka namun juga mempengaruhi secara luas pada seluruh strata dimasyarakat dan juga membebani sumber-sumber kesejahteraan.Namun, alasan-alasannya tidak sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yang   menempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan remaja akan ketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan, dan keinginan yangsangat untuk mendapatkan kebebasan. Selain masalah kehamilan pada remaja masalah yang juga sangat menggelisahkan berbagai kalangan dan juga banyak terjadi pada masa remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS “
•    Data dan Fakta HIV/AIDS
Dilihat dari jumlah pengidap dan peningkatan jumlahnya dari waktu kewaktu, maka dewasa ini HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS(Acquired Immune Deficiency Syndrome) sudah dapat dianggap sebagai ancamanhidup bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan Departemen Kesehatansampai Juni 2003 jumlah pengidap HIV/AIDS atau ODHA (Orang Yang HidupDengan HIV/AIDS) di Indonesia adalah 3.647 orang terdiri dari pengidap HIV2.559 dan penderita AIDS 1.088 orang. Dari jumlah tersebut, kelompok usia 15 -19 berjumlah 151 orang (4,14%); 19-24 berjumlah 930 orang (25,50%). Ini berarti bahwa jumlah terbanyak penderita HIV/AIDS adalah remaja dan orang muda.Dari data tersebut, dilaporkan yang sudah meninggal karena AIDS secara umumadalah 394 orang (Subdit PMS & AIDS, Ditjen PPM & PL, Depkes R.I.).Diperkirakan setiap hari ada 8.219 orang di dunia yang meninggal karena AIDS,sedangkan di kawasan Asia Pacific mencapai angka 1.192 orang.Data dan fakta tersebut belum mencerminkan keadaan yang sebenarnya,melainkan hanya merupakan "puncak gunung es", artinya, yang kelihatan atau dilaporkan hanya sedikit, sementara yang tidak kelihatan atau tidak dilaporkan jumlahnya berkali-kali lipat. Para ahli memperkirakan bahwa jumlah sebenarnya bisa 100 kali lipat.

•    Remaja dan HIV/AIDS
Penularan virus HIV ternyata menyebar sangat cepat di kalangan remajadan kaum muda.Penularan HIV di Indonesia terutama terjadi melalui hubunganseksual yang tidak aman, yaitu sebanyak 2.112(58%) kasus. Dari beberapa penelitian terungkap bahwa semakin lama semakin banyak remaja di bawah usia18 tahun yang sudah melakukan hubungan seks. Cara penularan lainnya adalah melalui jarum suntik (pemakaian jarum suntik secara bergantian pada pemakainarkoba, yaitu sebesar 815 (22,3%) kasus dan melalui transfusi darah 4 (0,10%)kasus). FKUl-RSCM melaporkan bahwa lebih dari 75% kasus infeksi HIV dikalangan remaja terjadi di kalangan pengguna narkotika.
Jumlah ini merupakankenaikan menyolok dibanding beberapa tahun yang lalu. Beberapa penyebabrentannya remaja terhadap HIV/AIDS, yaitu:
    Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang aman danupaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan kaum muda.Kurangnya informasi ini disebabkan adanya nilai-nilai agama, budaya,moralitas dan lainlain, sehingga remaja seringkali tidak memperolehinformasi maupun pelayanan kesehatan reproduksi yang sesungguhnyadapat membantu remaja terlindung dari berbagai resiko, termasuk penularanHIV/AIDS.
    Perubahan fisik dan emosional pada remaja yang mempengaruhi doronganseksual. Kondisi ini mendorong remaja untuk mencari tahu dan mencoba-coba sesuatu yang baru, termasuk melakukan hubungan seks dan penggunaan narkoba.c.
    Adanya informasi yang menyuguhkan kenikmatan hidup yang diperolehmelalui seks, alkohol, narkoba, dan sebagainya yang disampaikan melalui berbagai media cetak atau elektronik.d.
    Adanya tekanan dari teman sebaya untuk melakukan hubungan seks,misalnya untuk membuktikan bahwa mereka adalah jantan.e.
    Resiko HIV/AIDS sukar dimengerti oleh remaja, karena HIV/AIDSmempunyai periode inkubasi yang panjang, gejala awalnya tidak segeraterlihat

C.    MENANGANI MASALAH YANG TERJADI PADA REMAJA
Selain ketiga masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja sepertiyang disebutkan dan dibahas diatas terdapat pula masalah masalah lain padaremaja seperti tawuran, kenakalan remaja, kecemasan, menarik diri, kesulitan belajar, depresi dll.
Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lahmasa depan bangsa ini digantungkan. Terdapat beberapa cara yang dapatdilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yangterjadi pada remaja, yaitu antara lain :
•    Peran Orangtua :
-    Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita
-    Membekali anak dengan dasar moral dan agama
-    Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua ± anak
-    Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
-    Menjai tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam halmenjaga lingkungan yang sehat

•    Peran Guru :
-    Bersahabat dengan siswa
-    Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman
-    Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatanekstrakurikuler
-    Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga
-    Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP.

D.    REMAJA DAN PERILAKU HIDUP SEHAT
Remaja yang bersikap hidup sehat adalah remaja:
1.    Mengerti tujuan hidup
2.    Memahami faktor penghambat maupun pendukung perkembangan kematangannya.
3.    Bergaul dengan bijaksana
4.    Terus menerus memperbaiki diri
Dengan demikian remaja dapat diharapkan menjaga remaja yang handaldan sehat. Remaja harus mengetahui dirinya memiliki kekhawatiran dan harapan,dengan kata lain remaja harus mengerti dirinya sendiri. Faktor yang berkembang pada setiap remaja antara lain fisik, intelektual, emosional, spiritual. Kecepatan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fisik 35%
2. Intelektual 20%
3.Emosional 30%
4. Spiritual 15%
Faktor fisik berkembang secara tepat sedangkan faktor lainnya berkembang tidak sama besar. Perkembangan yang tidak seimbang inilah yangmenimbulkan kejanggalan dan berpengaruh terhadap perilaku remaja. Bagaimanaseseorang remaja melihat dirinya sendiri, orang lain serta hubungannya denganorang lain termasuk orang tua dan pembina? Kadangkadang ia ingin dianggapsebagai anak-anak, orang dewasa, orang lain dianggap sebagai orang tua, teman.Hubungan dirinya dengan orang lain dianggap bersifat:
1. Otoriter ------- demokratis
2. Tertutup ------- terbuka
3. Formal ------- informal
Semua tersebut di atas dalam keadaan "dalam perjalanan menuju"Sehingga dapat dilihat segalanya masih dalam proses dan tidak berada dalamkutub atau masa anak-anak ataupun kutub atau masa dewasa."Dalam perjalanan menuju" ini yang menonjol adalah:
1.    Fisik yang kuat
2.    Emosi yang cepat tersinggung
3.    Sering mengambil keputusan tanpa berfikir panjang4.
Pertimbangan agama, falsafah, ataupun tatakrama hanya kadang-kadangsaja dipakai Dan "Dalam perjalanan menuju" yang paling penting diketahuioleh remaja adalahbagaimana remaja dapat berproses :
     Menuju fisik yang ideal
     Menuju emosi kelakian ataupun kewanitaan yang utuh
     Menuju cara berfikir dewasa
     Menuju mempercayai hal-hal yang agamais, bersifat falsafah dan bersifat tatakrama.


BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
1.    Pada dasarnya kenakalan remaja meliputi semua perilaku yangmenyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja.Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orangdisekitarnya.
2.    Kenakalan remaja pada zaman sekarang ini disebabkan oleh beberapafactor.Perilaku nakal remaja disebabkan oleh factor remaja itu sendiri(internal)maupun factor dari luar (eksternal).
3.    Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasayang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasilmemperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
4.    Adanya motivasi dari keluarga , guru , teman sebaya merupakan hal-halyang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja.
5.    Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya anak tersebutmenyendiri.Anak yang demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
6.   
B.     Saran
1.    Perlu adanya tindakan-tindakan dari pemerintah untuk mengawasitindakanremaja di Indonesia agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja.
2.    Perlunya penanaman nilai moral , pendidikan dan nilai religious padadiriseorang remaja
 



DAFTAR PUSTAKA


Atkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat (2001). Buku Pedoman Umum TimPembina, Tim Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi olehProyek Peningkatan Kesehatan Khusus APBD 2002.Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo &Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.Kozier, B (1991). Fundamental of Nursing : Concept, Process, and Practice.Fourth Edition.California : Addison-Wesley Publishing Company.Mappiare, A. (1992). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.Stuart & Sundeen (1998).Principle and Practice of Psychiatric Nursing. 6 th. Ed.Philadelphia: The C V Mosby


1 comment: